”Just because you have been hurt doesn't mean you have an excuse to hurt them back. Revenge with love & forgive them.”-unknown

"The stars shine much brighter. The sky up above is bluer than blue." - When You're In Love, Karina

Mar 8, 2013

Kala Badai Menghadang. One.

Suatu malam saat terjadi badai yang sangat kencang, Ibu Luna mengalami sebuah kecelakaan yang menimpa dirinya dan sesuatu terjadi pada kandungannya; ia akan melahirkan. Telepon tiba-tiba tidak dapat tersambung, mungkin ayah Lily belum membayar tagihan telepon di rumahnya itu. Lily mencoba melupakan masalah terhadap ibu tirinya tersebut dan pergilah ia ke laut dengan perahu mesin milik ayahnya. 
*********

Angin kencang menghembuskan nafasnya sore itu di pulau Senta, pulau yang terletak di tengah laut Athena. Langit nampak termenung; kelabu dan ada yang gelap. Terlihat pula ombak bergelombang dengan ganasnya; besar dan kencang.

Lily Sharon berdiri di puncak sebuah bukit di pinggir pantai; lebih tepatnya di atas pantai. Ia memandangi keadaan di seberang pulau Senta, di tempat yang terlihat ramai dan begitu banyak cahaya, kota Wayden.
“Aku benci berada disini. Aku tidak ingin bekerja untuk ayah lagi. Aku ingin kembali ke kota Wayden. Aku pernah bahagia disana dan mungkin bahagiaku masih berada disana.” pikirnya singkat.

Di atas laut Athena yang tak jauh dari pulau, ia dapat melihat ada seorang lelaki remaja disana yang sedang berada di sebuah perahu mesin. Oh, Chris Garfield namanya, satu-satunya remaja yang terdapat di pulau Senta; selain Lily tentunya. Chris melihat ke atas dan ia dapat melihat Lily sedang berada di atas sana. Chris berhenti sejenak dari pekerjaannya. Lily ingin memanggilnya, namun ia mengurungkan niatnya tersebut.
Ia tidak pernah berbicara kepadaku. Mungkin dia tidak suka denganku. Tidak ada seorang pun di pulau ini yang menyukaiku. Ugh..” pikirnya dalam hati. Chris memutar balikkan perahu mesinnya dan memarkirnya dengan rapi di pinggir pantai.

**********
“Lily!!” seseorang memanggil.
Lily mencari asal suara tersebut. Oh, suara Ibu Luna Evans, ibu tiri Lily. Dia sedang berada di depan rumah Nyonya Meyer yang terletak di puncak bukit; atau atas bukitkah?
            “Lily! What are you doing out here? -apa yang kamu lakukan di luar sini- Ayahmu pasti telah menunggumu.” ujar Ibu Luna sambil berjalan menuju Lily.
            “Why do you come here setiap sore? Apa yang kamu cari? What do you want? -mengapa kau datang kesini, apa yang kamu inginkan-“
            “Pergi kamu! Pergi menjauh dariku! Aku muak denganmu! Aku tidak ingin kamu. Kamu bukan mamaku. Kamu tak dapat mengerti aku.” benaknya memberontak; namun ia tak mengatakan apapun.
“Mengapa tidak menjawab pertanyaanku?” tanya Ibu Luna.
“Aku ingin kembali pulang ke kota Wayden. Aku ingin hidup lamaku; aku ingin ibuku.” jelasnya.
Why don’t you want to be my friend? Why don’t you…? –mengapa kamu tidak ingin menjadi temanku-“
“Tinggalkan aku sendiri. Tolong, bisakah kau melakukannya?” tanyanya lembut.

Terlihat raut wajah Ibu Luna yang tidak bahagia dan merasa bersalah padanya; pada Lily. Lily ingin mengatakan sesuatu yang membuat Ibu Luna tidak merasa begitu, tetapi ia tak bisa melakukannya; ada sesuatu yang menahan bibirnya berbicara.
            “Apa yang terjadi padamu?! Kau tidak berbicara padaku. Bahkan kau tidak berbicara pada ayahmu juga. You know that my baby is coming next month. Tak banyak yang bisa aku lakukan di rumah bahkan untuk bekerja di peternakan saja aku tak mampu. You have to help your father. Tapi, lihat apa yang kamu lakukan?! Kau tidak melakukannya… -bayiku akan lahir bulan depan, kau harus membantu ayahmu-” Ibu Luna meluapkan emosinya.
            “Itu tidak benar! Aku membantumu dan ayah! Aku bekerja di peternakan dengannya pada pagi hari. Aku membereskan rumah siang ini. Tidak dapatkah aku mempunyai waktu untuk sendiri? Apa yang salah dengan itu, hey tante?!” Lily pun tak tahan. 
**********

Lily pergi menjauh dari Ibu Luna dan berlari kecil untuk kembali menuju rumah. Ibu Luna mengikutinya perlahan, ia tak dapat berjalan dengan cepat; karena kehamilannya. Seorang lelaki berbadan besar dan terlihat bagai peternak yang kuat sedang duduk di kursi di dekat meja makan. John Sharon, ayah kandung Lily lah yang ternyata telah duduk disana sedari tadi.
            “Habis pergi dari mana, Ly? Mana Luna?” tanyanya lembut.
            “Ia datang~” ayah Lily tidak senang mendengar jawaban singkat Lily tersebut.
            “Apakah kamu bersikap tidak baik padanya lagi? Apa yang terjadi lagi?” tanya John kepada Lily sambil melihat istrinya masuk ke dalam rumah.
            “Tanyakan semua pada Lily. Tanyakan pada anakmu itu.” ucap Ibu Luna. Lily tidak mengatakan apa-apa; meskipun John sedang menatap dan bertanya padanya.
            “Berikan padaku beberapa lembar roti. Lalu duduklah dan makan. Ayah tidak ingin mendengar sepatah kata pun darimu.”

Lily duduk dan ia terlihat nampak tidak suka dengan perkataan ayahnya tersebut.
            “Ayah kira aku ini anak kecil, apa? Aku sudah berumur 17tahun sekarang. Bukan 7!” bentaknya dalam hati.
John dan Lily mulai memakan rotinya masing-masing. Tak ada seorang pun yang berbicara; bahkan suara angin pun dapat terdengar.
            “Aku akan pergi ke kota Wayden menggunakan perahu mesin besok. Ada yang ingin kamu titipkan padaku untuk kubeli disana?” tanya John pada Ibu Luna.
            “Kau akan pergi, Yah? Oh ayah tolonglah, aku ingin ikut bersamamu! Ya ya ya? Tolong ayaahhh~” tanya Lily menuntut.
            “Tidak bisa. Kamu bisa tinggal disini bersama Luna. Bayinya akan lahir sekitar 4minggu lagi. Bantulah ia dan gantikan pekerjaannya untuk sementara.”
            “Nyonya Meyer Garfield dapat datang dan membantunya, kan? Kenapa harus aku, ayah? Tolong ayah. Ayah tahu? Aku tidak mau bekerja di peternakan. Aku ingin kembali ke kota Wayden. Aku ingin mencari pekerjaan disana; aku ingin mengambil kebahagiaanku kembali.”
            “Jangan dengarkan ia, John” sela Ibu Luna.
            “Aku sedang berbicara pada ayahku. Bukan kamu tante!” balas Lily.
            “Jangan berkata begitu pada ibumu dengan cara seperti itu!”
            “All right. Aku tidak akan berbicara padanya lagi! –baiklah-” ancam Ibu Luna. 

********** 

John sangat marah atas kelakuan putrinya terhadap istrinya tersebut. Ia tiba-tiba berdiri dan berusaha untuk menangkap lengan Lily. Lily segera lari keluar dari tempat duduknya dan tanpa sengaja ia menggeser cangkir teh. Teh panas tumpah dari cangkir dan mengenai kaki Ibu Luna. Ibu Luna pun terkejut dan melompat kecil karenanya.
            “Luna, kau tidak apa sayang?” tanya John.
            “Kakiku ya Tuhan! Bajuku! Eh?! Look! My legs! –lihat, kakiku-” tangis Ibu Luna sambil mencoba duduk di sebuah kursi.
            “Ada apa sayang? Apa yang terjadi?” panic John.
            “ It’s the baby! I think… ARGGGH! –ini (masalah) bayinya, aku rasa-” rintih Ibu Luna.
            “Tak mungkin! Ini terlalu cepat! Bayinya hanya berumur 8bulan.” pikir John, wajah Ibu Luna mulai memucat.
            “8bulan atau 9bulan I don’t care anymore! Bayinya akan keluar sekarang. Panggil ambulan udara secepatnya. I want the doctor, John. Now! –aku tidak peduli lagi, aku ingin dokter, sekarang-” rintih Ibu Luna tak tahan.
 
John bergegas menelepon ke rumah sakit di kota Wayden.
            “Halo? Halo? Ada orang di seberang sana? Hey hey!”
            “Ada apa ayah? Apa yang terjadi?” tanya Lily heran.
            “Teleponnya tidak bekerja. Mungkin ayah lupa membayar tagihan untuk bulan ini. Atau mungkin karena angin kencang di luar?” jelas ayah panik.
            “John, help me! Ugh John! –tolong aku-” teriak Ibu Luna.
John kebingungan dan menutup matanya sejenak penuh dengan tangannya; ia sedang berpikir dan merasa kebingungan.
            “Aku akan membawa perahu ke Wayden. Aku akan mencari dokter dan membawanya kesini.” John segera pergi dan membuka pintu. Angin berhembus menggampar wajahnya; cuaca yang buruk untuk berlayar dan berakifitas.
            “Anginnya sangat kencang. Aku tidak bisa mengendarai perahu disaat cuaca seperti ini.”
            “You have to go, John! Pergilah ke Wayden dan bawakan dokter untukku. Aku sudah tak kuat lagi…. –kau harus pergi-“
            “Aku akan membantumu. Kau akan baik-baik saja. Aku akan…” tawar Lily pada Ibu Luna.
            “Go away! Jangan dekati aku! –pergi kamu-“ bentak Ibu Luna.
            “Aku akan memanggil Nyonya Fei. Setidaknya ia tahu dan mengerti akan hal seperti ini; hal mengenai melahirkan bayi.”
            “Tidak! Aku tidak ingin Nyonya Fei. Aku ingin seorang dokter!!”
            “Ayolah tante. Kau akan baik-baik saja. Nyonya Fei memang bukan dokter, tapi ia bekerja di rumah sakit. Ia dapat membantu…” bujuk Lily.
            “Be quiet! This’s your fault! –diam, ini salahmu-“ potong Ibu Luna.
            “Tidak! Ya Tuhan tidak! Baiklah…”

**********

Lily berlari dan bergegas pergi keluar . Sekarang langit sudah sangat gelap. Lily melawan semua angin kencang yang menghalangi jalannya; menuju pelabuhan kecil di pinggir pulau Senta.

            “Aku harus menemukan dokter! Aku akan pergi ke kota Wayden!” janjinya dalam hati.
Part one.... done.

No comments:

Post a Comment