Suatu malam saat terjadi badai yang sangat kencang, Ibu Luna mengalami
sebuah kecelakaan yang menimpa dirinya dan sesuatu terjadi pada kandungannya;
ia akan melahirkan. Telepon tiba-tiba tidak dapat tersambung, mungkin ayah Lily
belum membayar tagihan telepon di rumahnya itu. Lily mencoba melupakan masalah
terhadap ibu tirinya tersebut dan pergilah ia ke laut dengan perahu mesin milik
ayahnya.
*********
Angin kencang menghembuskan nafasnya sore itu di pulau Senta, pulau yang terletak di tengah laut Athena. Langit nampak termenung; kelabu dan ada yang gelap. Terlihat pula ombak bergelombang dengan ganasnya; besar dan kencang.
Lily Sharon berdiri di puncak sebuah bukit di pinggir pantai;
lebih tepatnya di atas pantai. Ia memandangi keadaan di seberang pulau Senta,
di tempat yang terlihat ramai dan begitu banyak cahaya, kota Wayden.
“Aku benci berada disini. Aku tidak
ingin bekerja untuk ayah lagi. Aku ingin kembali ke kota Wayden. Aku pernah
bahagia disana dan mungkin bahagiaku masih berada disana.” pikirnya singkat.
Di atas laut Athena yang tak jauh dari pulau, ia dapat
melihat ada seorang lelaki remaja disana yang sedang berada di sebuah perahu
mesin. Oh, Chris Garfield namanya, satu-satunya remaja yang terdapat di pulau
Senta; selain Lily tentunya. Chris melihat ke atas dan ia dapat melihat Lily
sedang berada di atas sana. Chris berhenti sejenak dari pekerjaannya. Lily
ingin memanggilnya, namun ia mengurungkan niatnya tersebut.
“Ia
tidak pernah berbicara kepadaku. Mungkin dia tidak suka denganku. Tidak ada
seorang pun di pulau ini yang menyukaiku. Ugh..” pikirnya dalam hati. Chris
memutar balikkan perahu mesinnya dan memarkirnya dengan rapi di pinggir pantai.
**********
“Lily!!” seseorang memanggil.
Lily mencari asal suara tersebut. Oh, suara Ibu Luna Evans, ibu
tiri Lily. Dia sedang berada di depan rumah Nyonya Meyer yang terletak di
puncak bukit; atau atas bukitkah?
“Lily! What are you doing out here? -apa yang
kamu lakukan di luar sini- Ayahmu pasti telah menunggumu.” ujar Ibu Luna sambil
berjalan menuju Lily.
“Why do you come here setiap sore? Apa
yang kamu cari? What do you want? -mengapa
kau datang kesini, apa yang kamu inginkan-“
“Pergi kamu! Pergi menjauh dariku! Aku muak
denganmu! Aku tidak ingin kamu. Kamu bukan mamaku. Kamu tak dapat mengerti
aku.” benaknya memberontak; namun ia tak mengatakan apapun.
“Mengapa tidak menjawab
pertanyaanku?” tanya Ibu Luna.
“Aku ingin kembali pulang ke kota
Wayden. Aku ingin hidup lamaku; aku ingin ibuku.” jelasnya.
“Why
don’t you want to be my friend? Why don’t you…? –mengapa kamu tidak ingin
menjadi temanku-“
“Tinggalkan aku sendiri. Tolong,
bisakah kau melakukannya?” tanyanya lembut.
Terlihat raut wajah Ibu Luna yang tidak bahagia dan merasa
bersalah padanya; pada Lily. Lily ingin mengatakan sesuatu yang membuat Ibu
Luna tidak merasa begitu, tetapi ia tak bisa melakukannya; ada sesuatu yang
menahan bibirnya berbicara.
“Apa yang
terjadi padamu?! Kau tidak berbicara padaku. Bahkan kau tidak berbicara pada
ayahmu juga. You know that my baby is
coming next month. Tak banyak yang bisa aku lakukan di rumah bahkan untuk
bekerja di peternakan saja aku tak mampu. You
have to help your father. Tapi, lihat apa yang kamu lakukan?! Kau tidak
melakukannya… -bayiku akan lahir bulan depan, kau harus membantu ayahmu-” Ibu
Luna meluapkan emosinya.
“Itu tidak
benar! Aku membantumu dan ayah! Aku bekerja di peternakan dengannya pada pagi
hari. Aku membereskan rumah siang ini. Tidak dapatkah aku mempunyai waktu untuk
sendiri? Apa yang salah dengan itu, hey tante?!” Lily pun tak tahan.
**********
Lily pergi menjauh dari Ibu Luna dan berlari kecil untuk
kembali menuju rumah. Ibu Luna mengikutinya perlahan, ia tak dapat berjalan
dengan cepat; karena kehamilannya. Seorang lelaki berbadan besar dan terlihat
bagai peternak yang kuat sedang duduk di kursi di dekat meja makan. John
Sharon, ayah kandung Lily lah yang ternyata telah duduk disana sedari tadi.
“Habis pergi
dari mana, Ly? Mana Luna?” tanyanya lembut.
“Ia datang~”
ayah Lily tidak senang mendengar jawaban singkat Lily tersebut.
“Apakah kamu
bersikap tidak baik padanya lagi? Apa yang terjadi lagi?” tanya John kepada
Lily sambil melihat istrinya masuk ke dalam rumah.
“Tanyakan
semua pada Lily. Tanyakan pada anakmu itu.” ucap Ibu Luna. Lily tidak mengatakan
apa-apa; meskipun John sedang menatap dan bertanya padanya.
“Berikan
padaku beberapa lembar roti. Lalu duduklah dan makan. Ayah tidak ingin
mendengar sepatah kata pun darimu.”
Lily duduk dan ia terlihat nampak tidak suka dengan perkataan
ayahnya tersebut.
“Ayah kira aku ini anak kecil, apa? Aku sudah
berumur 17tahun sekarang. Bukan 7!” bentaknya dalam hati.
John dan Lily mulai memakan rotinya masing-masing. Tak ada
seorang pun yang berbicara; bahkan suara angin pun dapat terdengar.
“Aku akan
pergi ke kota Wayden menggunakan perahu mesin besok. Ada yang ingin kamu
titipkan padaku untuk kubeli disana?” tanya John pada Ibu Luna.
“Kau akan
pergi, Yah? Oh ayah tolonglah, aku ingin ikut bersamamu! Ya ya ya? Tolong ayaahhh~”
tanya Lily menuntut.
“Tidak bisa.
Kamu bisa tinggal disini bersama Luna. Bayinya akan lahir sekitar 4minggu lagi.
Bantulah ia dan gantikan pekerjaannya untuk sementara.”
“Nyonya
Meyer Garfield dapat datang dan membantunya, kan? Kenapa harus aku, ayah?
Tolong ayah. Ayah tahu? Aku tidak mau bekerja di peternakan. Aku ingin kembali
ke kota Wayden. Aku ingin mencari pekerjaan disana; aku ingin mengambil
kebahagiaanku kembali.”
“Jangan
dengarkan ia, John” sela Ibu Luna.
“Aku sedang
berbicara pada ayahku. Bukan kamu tante!” balas Lily.
“Jangan
berkata begitu pada ibumu dengan cara seperti itu!”
“All right. Aku tidak akan berbicara
padanya lagi! –baiklah-” ancam Ibu Luna.
**********
John sangat marah atas kelakuan putrinya terhadap istrinya tersebut. Ia tiba-tiba berdiri dan berusaha untuk menangkap lengan Lily. Lily segera lari keluar dari tempat duduknya dan tanpa sengaja ia menggeser cangkir teh. Teh panas tumpah dari cangkir dan mengenai kaki Ibu Luna. Ibu Luna pun terkejut dan melompat kecil karenanya.
“Luna, kau
tidak apa sayang?” tanya John.
“Kakiku ya
Tuhan! Bajuku! Eh?! Look! My legs!
–lihat, kakiku-” tangis Ibu Luna sambil mencoba duduk di sebuah kursi.
“Ada apa
sayang? Apa yang terjadi?” panic John.
“ It’s the baby! I think… ARGGGH! –ini (masalah)
bayinya, aku rasa-” rintih Ibu Luna.
“Tak
mungkin! Ini terlalu cepat! Bayinya hanya berumur 8bulan.” pikir John, wajah
Ibu Luna mulai memucat.
“8bulan atau
9bulan I don’t care anymore! Bayinya akan keluar sekarang. Panggil ambulan
udara secepatnya. I want the doctor, John. Now! –aku tidak peduli lagi, aku
ingin dokter, sekarang-” rintih Ibu Luna tak tahan.
John bergegas menelepon ke rumah sakit di kota Wayden.
“Halo? Halo?
Ada orang di seberang sana? Hey hey!”
“Ada apa
ayah? Apa yang terjadi?” tanya Lily heran.
“Teleponnya
tidak bekerja. Mungkin ayah lupa membayar tagihan untuk bulan ini. Atau mungkin
karena angin kencang di luar?” jelas ayah panik.
“John, help me! Ugh John! –tolong aku-” teriak
Ibu Luna.
John kebingungan dan menutup matanya sejenak penuh dengan
tangannya; ia sedang berpikir dan merasa kebingungan.
“Aku akan
membawa perahu ke Wayden. Aku akan mencari dokter dan membawanya kesini.” John
segera pergi dan membuka pintu. Angin berhembus menggampar wajahnya; cuaca yang
buruk untuk berlayar dan berakifitas.
“Anginnya
sangat kencang. Aku tidak bisa mengendarai perahu disaat cuaca seperti ini.”
“You have to go, John! Pergilah ke Wayden
dan bawakan dokter untukku. Aku sudah tak kuat lagi…. –kau harus pergi-“
“Aku akan
membantumu. Kau akan baik-baik saja. Aku akan…” tawar Lily pada Ibu Luna.
“Go away! Jangan dekati aku! –pergi
kamu-“ bentak Ibu Luna.
“Aku akan
memanggil Nyonya Fei. Setidaknya ia tahu dan mengerti akan hal seperti ini; hal
mengenai melahirkan bayi.”
“Tidak! Aku
tidak ingin Nyonya Fei. Aku ingin seorang dokter!!”
“Ayolah
tante. Kau akan baik-baik saja. Nyonya Fei memang bukan dokter, tapi ia bekerja
di rumah sakit. Ia dapat membantu…” bujuk Lily.
“Be quiet! This’s your fault! –diam, ini
salahmu-“ potong Ibu Luna.
“Tidak! Ya
Tuhan tidak! Baiklah…”
**********
Lily berlari dan bergegas pergi keluar . Sekarang langit sudah sangat gelap. Lily melawan semua angin kencang yang menghalangi jalannya; menuju pelabuhan kecil di pinggir pulau Senta.
“Aku harus menemukan dokter! Aku akan pergi
ke kota Wayden!” janjinya dalam hati.
Part one.... done.
No comments:
Post a Comment