“Aku harus menemukan dokter! Aku akan pergi
ke kota Wayden!” janjinya dalam hati.
Ia mulai menyalakan mesin perahu milik ayahnya. Tiba-tiba, di
dalam kegelapan dan hembusan angin yang kencang, seseorang bersuara berat
memanggil namanya. Ia rasa itu ayahnya yang ingin mencegahnya pergi. Seakan ia
tak peduli pada suara tersebut, ia segera memutar kemudi dan perahu mesinnya
pun mulai berjalan.
Terdapat suara berisik layaknya hantaman yang tiba-tiba
terdengar di bagian belakang perahu; seseorang telah melompat masuk ke atas
perahu. Bukan ayahnya, melainkan Chris Garfield.
“Lily Sharon,
apa yang kamu lakukan?! Kamu tidak bisa mengendarai perahu disaat seperti ini!”
bentak Chris.
“Aku bisa
dan aku akan tetap melakukannya,” balas Lily.
“ Tapi
anginnya begitu…”
“Dengar! Aku
harus pergi ke Wayden. Kamu pergi bersamaku? Maka bantulah aku. Jika kamu
takut? Silahkan melompat dari perahu ini dan berenang kembali ke pantai.”
potong Lily.
“Kamu gila?
Tapi ini terlalu berbahaya!” Chris merebut kemudi dari Lily.
“Hentikan!
Aku bisa melakukannya!” bentak Lily, lagi.
Sebuah ombak besar menghantam perahu mereka dan kemudi
kembali ke tangan Lily. Ia tak dapat memutarnya; Chris menahan kemudinya. Chris
mendorong Lily dan kembali menguasai kemudi.
“Kamu bodoh!
Aku tahu kamu ingin pergi dari rumah meninggalkan segalanya. Kenapa harus pergi
malam ini? Di saat cuaca seperti ini? Kenapa? Kau ingin mati secepatnya?”
bentak Chris; membalas perlakuan Lily padanya tadi.
“Dengarkan
dulu! Apakah kamu tidak tahu? Bahwa tante Luna…”
“Awas!
Sebuah batu di dekat ombak besar tersebut! Aku rasa air telah memasuki perahu
ini; melalui percikannya.”
“Aku menggunakan sepatu yang salah untuk
perahu yang basah sepert ini. Aku akan terjatuh setidaknya ugh.” pikir Lily
meratapi kebodohan kecilnya.
Ombak yang lain menghujam perahu mereka dan percikan air
mengisi perahu mereka, lagi. Lily pun memutuskan untuk melepas sepatunya.
“Hey! Apa
yang kamu lakukan?!” tanya Lily membuat Chris terkejut.
“Aku memutar
balikkan perahunya. Kita akan kembali ke pulau Senta.” jelas Chris.
“Tidak! Aku
harus tetap pergi ke Wayden! Tante Luna…”
“Jangan
begitu…”
“DENGAR!!
Kenapa kamu tidak mau mendengarkanku?! Tante Luna akan melahirkan bayinya dan
ini lebih cepat 4minggu dari seharusnya si bayi lahir. Telepon di pulau tidak
bekerja. Aku harus mendapatkan ambulan udara untuk membawa tante Luna ke rumah
sakit di Wayden atau paling tidak seorang dokter dapat membantunya di pulau.”
jelas Lily penuh amarah yang menggebu.
“Apa?!”
“Apakah kamu
tidak tahu? Apakah ayahku tak memberitahumu? Apakah ibumu; Nyona Meyer, tak
memberitahukan mu?”
“Ayahmu
pergi melewatkanku. Dia tidak berhenti dan berbicara padaku; hanya melewati.
Dia ingin berbicara pada ibuku. Kenapa kamu tidak cerita tentang Nyonya Luna
sedari tadi?” tanya Chris lugu.
“Kamu yang
tidak mendengarkanku tadi! Kamu yang memotong ceritaku! Bagaimana bisa aku
bercerita lengkap jika begitu.” jelas Lily kesal.
“Aku hanya
orang bodoh, bukan? Yang ingin kabur dari rumah di saat badai menerjang seperti
ini? Oke, aku akan membawamu kembali ke pulau Senta. Lalu aku akan pergi ke
kota Wayden sendiri!” lanjutnya menyindir Chris.
Chris tidak menahan atau merebut kemudi lagi, ia bahkan
membantu Lily memutarkan kemudi menuju kota Wayden.
“Maafkan
aku. Aku tidak dapat mengerti perasaan dan perkataanmu. Baiklah, aku akan
menemanimu pergi ke kota Wayden. Kamu tidak dapat melakukan hal ini sendirian.”
Lily menutup matanya sejenak. Ia tidak marah lagi sekarang,
justru ia lega dan senang mendengarnya. Setidaknya masih ada orang yang bisa
mengerti dan membantunya dengan perahu mesin tua milik ayahnya tersebut.
**********
Perahu mesin tua milik ayah Lily berhasil mereka bawa dengan penuh perjuangan ke seberang pulau Senta. Perahu tua tersebut tak dapat lagi digunakan. Bagian bawah perahu telah menabrak koral besar sehingga itu berpengaruh pada mesin perahu tersebut; karena mesin perahu berada di badan bawah, bukan? Namun, mereka menyadari jika tempat mereka menginjakkan kaki sekarang bukanlah kota Wayden, melainkan pulau Kurt; pulau lain di seberang kota Wayden, layaknya pulau Senta. Mereka berdua sedang menunggu ambulan udara datang menghampiri mereka di pulau tersebut dan mereka akan membawa ambulan tersebut kembali ke pulau Senta. Untuk akhirnya membantu Ibu Luna melahirkan bayinya. Chris membuka percakapan di antara mereka berdua, memecahkan keheningan di pinggir pantai pulau Kurt tersebut,
“Aku
mengatakan sesuatu padamu. Aku bersikap tidak baik karena aku sedang marah saat
itu. Aku mengatakan padamu bahwa kamu adalah orang yang bodoh.”
“Sekarang
kamu tahu bahwa aku tidak kabur dari rumah. Tetapi sungguh, aku tidak suka
pulau Senta. Kita hidup di dekat kota Wayden, dan kota itu adalah rumahku. Aku
bahagia disana. Aku punya banyak teman dan aku mencintai sekolahku disana..”
Lily menghentikan ceritanya, mendadak.
“Dan
kemudian ibu kamu meninggal?” tanya Chris perlahan.
“Yap. Saat
itu aku masih berumur 13tahun. Saat itu… adalah masa-masa sulit dalam hidupku. Ayah
dan aku telah menyendiri selama 2tahun. Kami adalah teman sekaligus keluarga
yang baik. Tapi kemudian, ia bertemu dengan tante Luna, seorang yang mengaku
blasteran Belanda tetapi ia tak bisa berbahasa itu sendiri; tinggal di sebuah
negara yang hanya menggunakan bahasa Inggris saja karena bahasa Internasional.
Mereka pun menikah. Ayah menjual peternakan lamanya dan membeli sebuah
peternakan di pulau Senta. Aku ingin mencari pekerjaan di kota Wayden. Tapi
ayah ingin aku hidup bersama mereka; Ibu Luna dan Ayah.”
“Kamu memiliki
ibu yang baru sekarang, jadi…”
“Ibu baru?
Kau mengatakan ia ibu baruku? Ibuku sangat baik, lucu, kuat dan…” ia tak mampu
membendung air matanya yang sedari tadi ia tahan.
Chris menaruh tangannya di atas tangan Lily; hey, dia
menggenggamnya. Lily benar-benar merindukan sosok ibu yang selama 11tahun
bersamanya; memberikan kasih sayang yang tulus, ikatan batin antara ibu dan
anak.
“Kamu
menangis…” ucap Chris
“It’s okay . Ibuku adalah orang yang…
Luar biasa. Sekarang ia telah tiada, dan aku tak dapat….”
“Kamu sangat
sedih, aku tahu. Tapi kamu tidak bisa membenci pulau Senta. Mungkin kamu tidak
bahagia bersama Nyonya Luna dan pak John, tapi jangan benci pulaunya!”
“Kenapa
tidak? Disana tidak ada apa-apa untukku. Beberapa binatang, beberapa orang-orang
tua; dewasa, satu atau dua pantai… hanya itu.”
“Apa? Hanya
itu? Apa yang salah dengan mata dan pandanganmu? Apakah kamu tidak melihat
burung-burung di langit? Tidakkah kau merasakan angin yang bersih, segar,
dingin, dan sejuk yang mengibas rambutmu? Disana terdapat beribu bunga yang
sangat indah di bukit-bukit. Tidak inginkah kamu mengetahui nama-namanya?
Tidakkah kamu melihat setiap pagi matahari terbit di laut Athena? Dan tidakkah
kau melihatnya terbenam di sisi yang lainnya? Pulau Senta merupakan tempat yang
paling indah di dunia!” ujar Chris tidak terima.
“Chris… Itu
semua merupakan kalimat yang indah dan luar biasa, tulislah itu semua hahaha”
saran Lily dengan bercanda.
“ Aku
bukanlah seorang penulis. Aku menangkap ikan.” balas Chris.
“Tapi tidakkah
kau ingin bersama orang-orang yang seumuran denganmu? Tidak ada orang yang
seumuran dengan kita di pulan Senta.”
“ Memang
jarang. Tapi kemudian kamu hadir, kan?” ucapan itu dikatakan Chris dengan
sebuah senyuman yang tulus dan… penuh
arti; ada sesuatu dalam tatapan Chris yang bahkan Lily tak mengerti apa artinya
itu.
**********
Tiba-tiba nampak sebuah cahaya dari langit yang akan turun, sepertinya cahaya itu menghampiri mereka berdua. Para penyelamat sampai dan… sebuah ambulan udara pun akhirnya tiba. Sama seperti ambulan pada umumnya, hanya saja ambulan udara menggunakan helikopter yang besar sebagai kendaraannya.
“Apakah
kalian yang baru saja menelepon rumah sakit kami? Apakah kalian terluka? Apakah
ada korban jiwa? Kalian hanya berdua? Anak semuda kalian? Dari pulau Senta? Di
cuaca seperti ini? Oh tidak mungkin! Kalian sungguh nekat ya. Dimana pasien
yang ingin ditangani? Oh iya, di pulau Senta, bukan? Ayo kita kesana, sesegera
mungkin akan lebih baik. Mari, saya bantu.” ucap salah satu petugas, layaknya
menembak dengan shoot gun yang tidak
kehabisan peluru; atau layaknya sebuah jurnalis yang kebelet? Lily dan Chris
hanya tertawa kecil mendengar ocehan petugas tersebut.
**********
Lily segera membuka pintu. John yang sedang berada di dapur tersentak karena kehadiran Lily.
“Lily! Oh my little girl! Kamu benar! Kamu akan
kembali. Maafkan ayah, ini salah ayah. Ayah…”
“Oh, ayah!
Itu tidak penting. Bagaimana tante Luna? Apakah ia baik saja?”
“Luna
baik-baik saja. Nyonya Fei dan Nyonya Meyer sedang bersamanya. Mereka
membantunya; melakukan apapun yang mereka mampu. Tetapi tidak untuk bayinya.
Kita harus sesegera mungkin menemukan dokter. Ayah takut…”
“Sang dokter
ada disini, ayah. Aku membawanya. Aku menepati janjiku. Aku pergi ke kota
Wayden tetapi… ah nanti saja deh, Yah. Dokternya telah datang!”
“Dokter…? Oh
pak Dokter! Mari ikut dengan saya!” ucap John sambil menuju kamar tidur.
**********
“Kemarilah, lihat dan bertemulah dengan adik laki-lakimu.” ujar dokter pada Lily.
“Adik
laki-lakiku? Apakah dia baik-baik saja?” tanya Lily, senang.
“Yap. Dia
akan baik-baik saja sekarang. Kau telah menyelamatkannya, Lily. Kau
menyelamatkan hidupnya.”
Lily pergi menuju ke kamar dan dilihatnya Ibu Luna yang
sedang menggendong bayi di tangannya. Wajah Ibu Luna nampak pucat dan lelah,
tetapi ada senyum bahagia di wajahnya.
“Oh Lily!
Maafkan aku. Aku berlaku kasar dan tidak baik padamu. Ayahmu sangat
mencintaimu, dan aku ingin ia mencintaiku. Aku tidak menginginkanmu disini,
tetapi sekarang…”
“Tidak apa,
tante. Ini adalah salahku. Bisakah aku melihat bayinya?” tanya Lily semangat.
“Tentu. Dia
milikmu juga, kok.” Ibu Luna menaruh bayinya di lengan Lily.
“Oh saudara
laki-lakiku. Adikku tersayang~” ia memandang pada John.
“Kita adalah
sebuah keluarga lagi sekarang, Ayah!” katanya bahagia.
Kala Badai Menghadang.... done.
No comments:
Post a Comment