”Just because you have been hurt doesn't mean you have an excuse to hurt them back. Revenge with love & forgive them.”-unknown

"The stars shine much brighter. The sky up above is bluer than blue." - When You're In Love, Karina

Mar 8, 2013

Kala Badai Menghadang. Two-end.

           “Aku harus menemukan dokter! Aku akan pergi ke kota Wayden!” janjinya dalam hati.
Ia mulai menyalakan mesin perahu milik ayahnya. Tiba-tiba, di dalam kegelapan dan hembusan angin yang kencang, seseorang bersuara berat memanggil namanya. Ia rasa itu ayahnya yang ingin mencegahnya pergi. Seakan ia tak peduli pada suara tersebut, ia segera memutar kemudi dan perahu mesinnya pun mulai berjalan.

Terdapat suara berisik layaknya hantaman yang tiba-tiba terdengar di bagian belakang perahu; seseorang telah melompat masuk ke atas perahu. Bukan ayahnya, melainkan Chris Garfield.
            “Lily Sharon, apa yang kamu lakukan?! Kamu tidak bisa mengendarai perahu disaat seperti ini!” bentak Chris.
            “Aku bisa dan aku akan tetap melakukannya,” balas Lily.
            “ Tapi anginnya begitu…”
            “Dengar! Aku harus pergi ke Wayden. Kamu pergi bersamaku? Maka bantulah aku. Jika kamu takut? Silahkan melompat dari perahu ini dan berenang kembali ke pantai.” potong Lily.
            “Kamu gila? Tapi ini terlalu berbahaya!” Chris merebut kemudi dari Lily.
            “Hentikan! Aku bisa melakukannya!” bentak Lily, lagi.
Sebuah ombak besar menghantam perahu mereka dan kemudi kembali ke tangan Lily. Ia tak dapat memutarnya; Chris menahan kemudinya. Chris mendorong Lily dan kembali menguasai kemudi.
            “Kamu bodoh! Aku tahu kamu ingin pergi dari rumah meninggalkan segalanya. Kenapa harus pergi malam ini? Di saat cuaca seperti ini? Kenapa? Kau ingin mati secepatnya?” bentak Chris; membalas perlakuan Lily padanya tadi.
            “Dengarkan dulu! Apakah kamu tidak tahu? Bahwa tante Luna…”
            “Awas! Sebuah batu di dekat ombak besar tersebut! Aku rasa air telah memasuki perahu ini; melalui percikannya.”
            “Aku menggunakan sepatu yang salah untuk perahu yang basah sepert ini. Aku akan terjatuh setidaknya ugh.” pikir Lily meratapi kebodohan kecilnya.
Ombak yang lain menghujam perahu mereka dan percikan air mengisi perahu mereka, lagi. Lily pun memutuskan untuk melepas sepatunya.
            “Hey! Apa yang kamu lakukan?!” tanya Lily membuat Chris terkejut.
            “Aku memutar balikkan perahunya. Kita akan kembali ke pulau Senta.” jelas Chris.
            “Tidak! Aku harus tetap pergi ke Wayden! Tante Luna…”
            “Jangan begitu…”
            “DENGAR!! Kenapa kamu tidak mau mendengarkanku?! Tante Luna akan melahirkan bayinya dan ini lebih cepat 4minggu dari seharusnya si bayi lahir. Telepon di pulau tidak bekerja. Aku harus mendapatkan ambulan udara untuk membawa tante Luna ke rumah sakit di Wayden atau paling tidak seorang dokter dapat membantunya di pulau.” jelas Lily penuh amarah yang menggebu.
            “Apa?!”
            “Apakah kamu tidak tahu? Apakah ayahku tak memberitahumu? Apakah ibumu; Nyona Meyer, tak memberitahukan mu?”
            “Ayahmu pergi melewatkanku. Dia tidak berhenti dan berbicara padaku; hanya melewati. Dia ingin berbicara pada ibuku. Kenapa kamu tidak cerita tentang Nyonya Luna sedari tadi?” tanya Chris lugu.
            “Kamu yang tidak mendengarkanku tadi! Kamu yang memotong ceritaku! Bagaimana bisa aku bercerita lengkap jika begitu.” jelas Lily kesal.
            “Aku hanya orang bodoh, bukan? Yang ingin kabur dari rumah di saat badai menerjang seperti ini? Oke, aku akan membawamu kembali ke pulau Senta. Lalu aku akan pergi ke kota Wayden sendiri!” lanjutnya menyindir Chris.
Chris tidak menahan atau merebut kemudi lagi, ia bahkan membantu Lily memutarkan kemudi menuju kota Wayden.
            “Maafkan aku. Aku tidak dapat mengerti perasaan dan perkataanmu. Baiklah, aku akan menemanimu pergi ke kota Wayden. Kamu tidak dapat melakukan hal ini sendirian.”
Lily menutup matanya sejenak. Ia tidak marah lagi sekarang, justru ia lega dan senang mendengarnya. Setidaknya masih ada orang yang bisa mengerti dan membantunya dengan perahu mesin tua milik ayahnya tersebut.
 
**********

Perahu mesin tua milik ayah Lily berhasil mereka bawa dengan penuh perjuangan ke seberang pulau Senta. Perahu tua tersebut tak dapat lagi digunakan. Bagian bawah perahu telah menabrak koral besar sehingga itu berpengaruh pada mesin perahu tersebut; karena mesin perahu berada di badan bawah, bukan? Namun, mereka menyadari jika tempat mereka menginjakkan kaki sekarang bukanlah kota Wayden, melainkan pulau Kurt; pulau lain di seberang kota Wayden, layaknya pulau Senta. Mereka berdua sedang menunggu ambulan udara datang menghampiri mereka di pulau tersebut dan mereka akan membawa ambulan tersebut kembali ke pulau Senta. Untuk akhirnya membantu Ibu Luna melahirkan bayinya. Chris membuka percakapan di antara mereka berdua, memecahkan keheningan di pinggir pantai pulau Kurt tersebut,
            “Aku mengatakan sesuatu padamu. Aku bersikap tidak baik karena aku sedang marah saat itu. Aku mengatakan padamu bahwa kamu adalah orang yang bodoh.”
            “Sekarang kamu tahu bahwa aku tidak kabur dari rumah. Tetapi sungguh, aku tidak suka pulau Senta. Kita hidup di dekat kota Wayden, dan kota itu adalah rumahku. Aku bahagia disana. Aku punya banyak teman dan aku mencintai sekolahku disana..” Lily menghentikan ceritanya, mendadak.
            “Dan kemudian ibu kamu meninggal?” tanya Chris perlahan.
            “Yap. Saat itu aku masih berumur 13tahun. Saat itu… adalah masa-masa sulit dalam hidupku. Ayah dan aku telah menyendiri selama 2tahun. Kami adalah teman sekaligus keluarga yang baik. Tapi kemudian, ia bertemu dengan tante Luna, seorang yang mengaku blasteran Belanda tetapi ia tak bisa berbahasa itu sendiri; tinggal di sebuah negara yang hanya menggunakan bahasa Inggris saja karena bahasa Internasional. Mereka pun menikah. Ayah menjual peternakan lamanya dan membeli sebuah peternakan di pulau Senta. Aku ingin mencari pekerjaan di kota Wayden. Tapi ayah ingin aku hidup bersama mereka; Ibu Luna dan Ayah.”
            “Kamu memiliki ibu yang baru sekarang, jadi…”
            “Ibu baru? Kau mengatakan ia ibu baruku? Ibuku sangat baik, lucu, kuat dan…” ia tak mampu membendung air matanya yang sedari tadi ia tahan.
Chris menaruh tangannya di atas tangan Lily; hey, dia menggenggamnya. Lily benar-benar merindukan sosok ibu yang selama 11tahun bersamanya; memberikan kasih sayang yang tulus, ikatan batin antara ibu dan anak.
            “Kamu menangis…” ucap Chris
            “It’s okay . Ibuku adalah orang yang… Luar biasa. Sekarang ia telah tiada, dan aku tak dapat….”
            “Kamu sangat sedih, aku tahu. Tapi kamu tidak bisa membenci pulau Senta. Mungkin kamu tidak bahagia bersama Nyonya Luna dan pak John, tapi jangan benci pulaunya!”
            “Kenapa tidak? Disana tidak ada apa-apa untukku. Beberapa binatang, beberapa orang-orang tua; dewasa, satu atau dua pantai… hanya itu.”
            “Apa? Hanya itu? Apa yang salah dengan mata dan pandanganmu? Apakah kamu tidak melihat burung-burung di langit? Tidakkah kau merasakan angin yang bersih, segar, dingin, dan sejuk yang mengibas rambutmu? Disana terdapat beribu bunga yang sangat indah di bukit-bukit. Tidak inginkah kamu mengetahui nama-namanya? Tidakkah kamu melihat setiap pagi matahari terbit di laut Athena? Dan tidakkah kau melihatnya terbenam di sisi yang lainnya? Pulau Senta merupakan tempat yang paling indah di dunia!” ujar Chris tidak terima.
            “Chris… Itu semua merupakan kalimat yang indah dan luar biasa, tulislah itu semua hahaha” saran Lily dengan bercanda.
            “ Aku bukanlah seorang penulis. Aku menangkap ikan.” balas Chris.
            “Tapi tidakkah kau ingin bersama orang-orang yang seumuran denganmu? Tidak ada orang yang seumuran dengan kita di pulan Senta.”
            “ Memang jarang. Tapi kemudian kamu hadir, kan?” ucapan itu dikatakan Chris dengan sebuah senyuman yang tulus dan…  penuh arti; ada sesuatu dalam tatapan Chris yang bahkan Lily tak mengerti apa artinya itu.

**********

Tiba-tiba nampak sebuah cahaya dari langit yang akan turun, sepertinya cahaya itu menghampiri mereka berdua. Para penyelamat sampai dan… sebuah ambulan udara pun akhirnya tiba. Sama seperti ambulan pada umumnya, hanya saja ambulan udara menggunakan helikopter yang besar sebagai kendaraannya.
            “Apakah kalian yang baru saja menelepon rumah sakit kami? Apakah kalian terluka? Apakah ada korban jiwa? Kalian hanya berdua? Anak semuda kalian? Dari pulau Senta? Di cuaca seperti ini? Oh tidak mungkin! Kalian sungguh nekat ya. Dimana pasien yang ingin ditangani? Oh iya, di pulau Senta, bukan? Ayo kita kesana, sesegera mungkin akan lebih baik. Mari, saya bantu.” ucap salah satu petugas, layaknya menembak dengan shoot gun yang tidak kehabisan peluru; atau layaknya sebuah jurnalis yang kebelet? Lily dan Chris hanya tertawa kecil mendengar ocehan petugas tersebut.

**********

Lily segera membuka pintu. John yang sedang berada di dapur tersentak karena kehadiran Lily.
            “Lily! Oh my little girl! Kamu benar! Kamu akan kembali. Maafkan ayah, ini salah ayah. Ayah…”
            “Oh, ayah! Itu tidak penting. Bagaimana tante Luna? Apakah ia baik saja?”
            “Luna baik-baik saja. Nyonya Fei dan Nyonya Meyer sedang bersamanya. Mereka membantunya; melakukan apapun yang mereka mampu. Tetapi tidak untuk bayinya. Kita harus sesegera mungkin menemukan dokter. Ayah takut…”
            “Sang dokter ada disini, ayah. Aku membawanya. Aku menepati janjiku. Aku pergi ke kota Wayden tetapi… ah nanti saja deh, Yah. Dokternya telah datang!”
            “Dokter…? Oh pak Dokter! Mari ikut dengan saya!” ucap John sambil menuju kamar tidur. 

**********

            “Kemarilah, lihat dan bertemulah dengan adik laki-lakimu.” ujar dokter pada Lily.
            “Adik laki-lakiku? Apakah dia baik-baik saja?” tanya Lily, senang.
            “Yap. Dia akan baik-baik saja sekarang. Kau telah menyelamatkannya, Lily. Kau menyelamatkan hidupnya.”
Lily pergi menuju ke kamar dan dilihatnya Ibu Luna yang sedang menggendong bayi di tangannya. Wajah Ibu Luna nampak pucat dan lelah, tetapi ada senyum bahagia di wajahnya.
            “Oh Lily! Maafkan aku. Aku berlaku kasar dan tidak baik padamu. Ayahmu sangat mencintaimu, dan aku ingin ia mencintaiku. Aku tidak menginginkanmu disini, tetapi sekarang…”
            “Tidak apa, tante. Ini adalah salahku. Bisakah aku melihat bayinya?” tanya Lily semangat.
            “Tentu. Dia milikmu juga, kok.” Ibu Luna menaruh bayinya di lengan Lily.
            “Oh saudara laki-lakiku. Adikku tersayang~” ia memandang pada John.
            “Kita adalah sebuah keluarga lagi sekarang, Ayah!” katanya bahagia.

 Kala Badai Menghadang.... done.

No comments:

Post a Comment